عن معاذ بن جبل
قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من عير أخاه بذنب لم يمت حتى يعمله
Rasulullah SAW
bersabda: Barang siapa yang mencela saudaranya (muslim) karena suatu dosa yang
diperbuatnya, maka dia tidak akan meti sampai dia melakukan dosa tersebut.
Para ulama’
berpendapat: dia diberi balasan dengan dihilangkan darinya taufiq Allah
SWT hingga dia melakukan dosa yang dia cela pada saudaranya (muslim), hal
tersebut karena dia merasa sombong dan hatinya merasa dia akan selamat (tidak
mungkin melakukan dosa tersebut).
وقال صلى الله عليه وسلم: لا تظهر الشماتة لأخيك
فيرحمه الله ويبتليك
Dalam hadits
yang lain Rasulullah SAW bersabda: jangan kau senang atas kesususahan
saudaramu (atau merasa lebih baik darinya) sehingga allah memberinya rahmat (ni’mat)
dan memberi mu cobaan (kesusahan).
وقال الإمام
حسن البصري: عيرت اخا في الله بذنب فيبتليني الله بذلك الذنب بعد اربعين سنة
Imam Hasan
Bashri berkata: aku pernah mencela saudaraku semuslim karena dosa yang dia
perbuat, kemudian allah memberiku cobaan dengan dosa tersebut setelah 40 tahun.
Pesan singkat yang mengajarkan kita
bagaimana kita bersikap kepada oranglain, setiap orang tidak akan lepas dari
kesalahan begitu juga dengan kita, maka tidak pantas kita mencelanya atau kita
merasa lebih baik darinya karena kita pun pasti pernah salah, terlebih apabila
kita sampai mengadu atau menyebarkan kesalahan orang lain, jika memang kita
melihat sesuatu yang salah maka kita memiliki kewajiban menegornya atau
memberitahunya dengan kata-kata yang santun.
قال رسول الله صلى
الله عليه وسلم: لايؤمن احدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه
“seseorang
tidak dikatakan mukmin sampai dia memperlakukan saudarnya (dalam segala hal)
dengan hal-hal yang dia sukai (yang dia senang apabila oranglain memperlakukannya
dengan hal tersebut)”.
Sebuah pedoman
hidup yang sangat luar biasa, apabila kita mengamalkan maksud hadits tersebut
bersama-sama maka pasti banyak masalah-masalah yang akan terselaikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar